Find Us On Social Media :

Kesal Tak Dapat Masuk SMP Favorit, Siswa SD Segudang Prestasi Bakar Belasan Piagam, Begini Kisah Pilunya

By Veronica Sri Wahyu Wardiningsih, Kamis, 27 Juni 2019 | 12:07 WIB

Ayah Y, Sugeng Witoto (50) saat memperlihatkan piala yang didapatkan oleh anaknya, Rabu (26/06/2019).

GridPop.ID - Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2019/2020 bisa melalui tiga jalur.

Calon siswa baru bisa memilih antara jalur pretasi, jalur zonasi, dan jalur perpindahan tugas/pekerjaan orangtua.

Namun, di balik pilihan tersebut tentu ada beberapa kendala yang ada termasuk dialami oleh seorang siswa SD di Pekalongan yang hendak mendaftar ke SMP negeri.

Baca Juga: Dari Sakit Menahun Hingga Jatuh Miskin dan Koma, Ini Deretan Artis yang Dicerai Istri Dalam Kondisi Terpuruk

Melansir dari Kompas.com, Kamis (27/6), seorang siswa berprestasi sebuah SD negeri di Pekalongan berinisial Y (12) merasa kecewa karena tidak diterima di SMP negeri impiannya.

Karena rasa kecewanya tersebut, Y membakar belasan piagam penghargaan pada Minggu (23/6) lalu.

Aksinya tersebut pun sempat viral di media sosial.

Baca Juga: Kepanasan, Seorang Pria Ditangkap Polisi karena Naik Motor Tanpa Busana, Begini Kejadiannya

Y merupakan putra pasangan Sugeng Witoto (50) dan Sukoharti (45).

Ayah Y, Sugeng Witoto membenarkan aksi nekat anak ketiganya itu karena kecewa tidak diterima di sekolah favoritnya.

Y merasa piagam-piagam tersebut tidak berlaku lagi dengan kondisi saat ini.

Baca Juga: Artis Cecillia Putty Meninggal Dalam Usia Muda karena Kanker Lidah, Makanan yang Disukai Banyak Orang Ini Bisa Perparah Penyakit Kanker Lidah

Piagam-piagam tersebut merupakan berbagai kejuaraan seni dan agama yang diikuti dan beberapa menyabet juara satu tingkat Kabupaten Pekalongan.

Dia menjelaskan, ada sekitar 15 piagam penghargaan yang dibakar.

Berbagai kejuaraan yang diikuti dan berhasil menyabet juara satu.

Baca Juga: Cerita Pertemuan Pertama Mayangsari dan Bambang Trihatmodjo, Dari Artis Pendukung Kampanye Hingga Berakhir di Pelaminan

Di antaranya seperti menulis halus, cerita islami, tilawah, adzan, nyanyi solo, nyanyi grup, dan dokter kecil.

"Anak saya juga selalu masuk dan memiliki ranking di kelasnya. Mungkin berpikiran piagam-piagam tidak membantu dirinya masuk ke SMP Negeri 1 Kajen (sekolah yang diinginkan), jadi akhirnya dibakar," kata Sugeng saat ditemui di kediamannya, Rabu (26/6).

Menurut Sugeng, anaknya mendaftar ke SMPN 1 Kajen dengan menggunakan sistem zonasi, karena wilayah rumahnya berjarak 2000 meter dari sekolahan yang didaftar.

Baca Juga: Sesenggukan hingga Berurai Air Mata, Seorang Anak SD Jadi Sorotan saat Nyanyikan Lagu Ayah di Acara Perpisahan SD

Minimnya sosialisasi Dinas pendidikan terkait PPDB yang melalui tiga jalur yakni jalus zonasi, jalur berprestasi dna jalur perpindahan orangtua, membuat anaknya terjebak dalam zonasi.

"Hari pertama pendaftaran saya mengantarkan anaknya melakukan pendaftaran online namun melalui jalur zonasi," ungkapnya.

"Namun oleh guru dan kepala sekolah dasar, disarankan untuk masuk jalur prestasi. Di hari kedua, mendaftar jalur prestasi namun tidak bisa, mengingat sudah mendaftar di jalur zonasi," terangnya lagi.

Baca Juga: Pretty Asmara Meninggal Akibat Pembengkakan Hati, Buah-buahan Segar dan Bumbu Dapur Ini Bisa Jadi Pencegahnya

"Saya, sebagai orangtua kecewa. Kita sudah mendaftar ke jalur pretasi kata pihak sekolah (SMP) tidak bisa, harusnya daftar di sekolah di luar zonasi," ungkapnya.

Dirinya mengungkapkan kendati kecewa dengan sistem yang ada, ia tetap melanjutkan anaknya masuk sekolah swasta agar tidak kecewa berkelanjutan.

"Anak saya sudah didaftarkan ke sekolah SMP Muhammadiyah 1 Kajen dan seharusnya dengan sistem seperti ini pihak pemerintah menyediakan banyak sekolah negeri dulu," tambahnya.

Baca Juga: Dari Ritual Mistis Hingga Gundukan Harta, Begini Kondisi Terkini Roro Fitria yang Masih Kecanduan Narkoba di Penjara

Dikutip dari Tribun Jateng, sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Pekalongan, Sumarwati saat dihubungi belum memberikan keterangan terkait dengan gagalnya siswa yang masuk jalur prestasi tersebut. (*)