Find Us On Social Media :

Indonesia Kritis Covid-19! Bukannya Berkurang Malah Pecahkan Rekor Penambahan Tertinggi hingga Sentuh Angka 3.003 Sehari, Apa yang Akan Terjadi?

By None, Sabtu, 29 Agustus 2020 | 18:00 WIB

Corona di Indonesia

 

Kemudian, pada periode 27 - 28 Agustus 2020, ada penambahan 105 pasien Covid-19 yang tutup usia.

Sehingga, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia mencapai 7.169 orang. Indonesia kritis Covid-19

Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman pun mengingatkan agar Indonesia terus melakukan penguatan kuantitas dan kualitas testing virus corona.

Sebab, menurut dia, Indonesia saat ini telah memasuki fase awal kritis akibat Covid-19.

"Indonesia ini sudah memasuki fase kritis awal yang diperkirakan mengalami puncak di awal Oktober 2020, khususnya Jawa. Ini bisa berlangsung lama, bisa sampai akhir tahun," kata Dicky.

Dicky menyebutkan, ada beberapa indikator yang mendasari bahwa Indonesia kini sudah memasuki fase kritis pandemi virus corona. Pertama, jumlah kasus baru harian yang semakin tinggi.

Baca Juga: 6 Tahun Pisah dari Ayu Ting Ting dan 2 Kali Menduda, Enji Kepergok Rangkulan Mesra di Dalam Kamar, Gandeng Pacar Baru Lebih Cantik Dari Mantan Istri!

Hingga saat ini, menurut Dicky, hanya DKI Jakarta yang bisa dinilai secara valid karena memiliki cakupan tes memadai dan memenuhi target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu satu tes per seribu per minggu.

"Untuk melihat secara valid berapa kasus baru harian, tentu harus diakukan dengan testing yang optimal, baik kuantitas maupun kualitas," jelas dia.

"Bila ini tak bisa kita nilai, itu bukan sesuatu yang aman-aman saja. Malah sebaliknya, kita berada dalam posisi yang rawan karena kita tidak bisa menilai situasi sesungguhya di wilayah tersebut," lanjut Dicky.

Indikator kedua adalah infection rate yang juga dipengaruhi oleh kapasitas testing. Dicky menyebut infection rate tersebut bisa menilai seberapa parah virus corona telah menyebar.

Ketiga, positivity rate baik pada level nasional maupun daerah yang berada di atas rata-rata global atau indikator WHO, yaitu di bawah 5 persen.

"Rata-rata kita di atas 10 persen, belum pernah turun di bawah 10 persen. Tentu ini situasinya rawan," kata Dicky.

Baca Juga: Bak Petir di Siang Bolong, Sosok Ini Bongkar Aib Orang Tua Atta Halilintar yang Disebut Tukang Ngibul Poroti Uang Orang Lain: Licik!