Find Us On Social Media :

Mumi Lady Dai Masih Bisa Diotopsi Setelah 2.100 Tahun Kematiannya, Begini Jenis Penyakit hingga Gaya Hidup Mewahnya

By Veronica Sri Wahyu Wardiningsih, Rabu, 3 April 2019 | 17:34 WIB

Mumi Lady Dai

GridPop.ID - Mumi Lady Day menjadi penemuan arkeologi terbesar pada abad ke-20.

Setelah 2.100 tahun kematiannya, mumi Lady Dai masih bisa diotopsi.

Hasil otopsi itu pun memaparkan riwayat hidup Lady Dai yang dipenuhi dengan kemewahan.

Baca Juga : Alami Komplikasi hingga Koma Lima Bulan Usai Melahirkan, Seorang Ibu Menangis Haru saat Melihat Bayinya Pertama Kali

Bahkan fak-fakta mengejutkan juga menguak gaya hidup istri aristokrat dari bangsawan Dinasti Han tersebut.

Sosok mumi berikut dianggap sebagai salah satu mumi terbaik yang diawetkan di dunia.

Meski wajahnya tampak bengkak dan cacat, kulitnya masih lunak untuk disentuh, tidak ada tanda-tanda rigor mortis (kaku mayat) yang tampak.

Baca Juga : Millendaru Akui Dirinya Pria Tulen Pada Hotman Paris, 'Semuanya Masih Asli'

Lengan dan kakinya juga masih bisa bengkok.

Bahkan, organ internalnya masih utuh dan masih ada darah di pembuluh darahnya.

Mumi lainnya cenderung hancur pada gerakan sekecil apa pun, namun tidak dengan mumi Lady Dai.

Dikutip dari laman Amusing Planet via Suar.grid.id, Rabu (3/4/2019), dokter bahkan masih bisa melakukan otopsi lebih dari 2.100 tahun setelah kematiannya.

Baca Juga : Mike Mohede Meninggal di Usia Muda Karena Serangan Jantung, Ini 6 Perubahan Tubuh Tanda Penyakit Jantung

Ini membuat mereka tidak hanya mampu merekontruksi kematiannya, tetapi juga hidupnya.

Dokter bisa menentukan golongan darahnya, yakni bertipe A.

Otopsi Lady Dai boleh dibilang profl medis paling lengkap yang pernah dikompilasi pada individu kuno.

Lady Dai, atau Xin Zhui, adalah istri aristokrat dari bangsawan Dinasti Han, Li Cang.

Baca Juga : Bermain Tanpa Alas Kaki di Kandang Babi, Telapak Kaki Gadis Ini Terkena Infeksi Kutu Penghisap Darah hingga Membusuk

Tidak diragukan lagi dia menjalani kehidupan yang mewah.

Makamnya dipenuhi kemewahan yang hanya bisa dilakukan oleh orang kaya di zamannya.

Hal itu termasuk pakaian sutra bersulam indah, rok, sarung tangan mungil, kantong sutra yang diisi dengan berbagai bumbu, bunga yang harum, kotak-kotak kosmetik, alat musik dan patung musisi, serta lebih banyak barang-barang lainnya.

"Benda-benda ini menunjukkan Lady Dai hidup mewah, yang sangat dia nikmati," kata Willow Weilan Hai Chang, direktur Galeri Institut Tiongkok di New York City pada tahun 2009 lalu.

"Dia ingin mempertahankan gaya hidup yang sama di akhirat," tambahnya.

Baca Juga : Ingin Makan Gratis, Pengunjung Ini Malah Serakah Peras Restoran 10 Miliar Rupiah dengan Memasukan Bangkai Tikus pada Makanannya

Dikebal dengan kecantikannya di masa muda, Lady Dai memanjakan diri dalam setiap kenikmatan kuliner (seperti sup kalajengking) sampai ia mengalami obesitas.

Ukiran di penanda makamnya menggambarkan dia bersandar pada tongkat.

Dia mungkin tidak bisa berjalan tanpanya karena trombosis koroner dan arteriosklerosis yang didapatkan karena gaya hidupnya yang tidak aktif fisik.

Baca Juga : Duh, Anak Mahfud MD Dikira Mahasiswa Kurang Mampu, sang Dosen Beri Reaksi Tak Terduga saat Tahu Faktanya!

Pada hasil otopsi ditemukan sebuah fusi tulang di tulang belakangnya yang akan menyebabkan sakit punggung yang parah dan kesulitan berjalan.

Dia juga memiliki penyakit dalam kemungkinan besar karena makan makanan setengah matang atau kebersihan yang buruk.

Arterinya juga tersumbat, penyakit jantung yang serius, osteoporosis dan batu empedu, salah satunya bersarang di saluran empedunya dan semakin memperburuk kondisinya.

Lady Dai menginggal dunia pada usia sekitar lima puluh tahun akibat serangan jantung mendadak.

Penyebabnya karena kesehatan yang buruk selama bertahun-tahun.

Baca Juga : Makin Tajir dari Sebelumnya, Syahrini Rogoh Kocek hingga Jutaan Rupiah Hanya untuk Sebuah Bando Rambut!

Makanan terakhirnya terdiri dari melon.

Ironisnya, makamnya berisi sejumlah besar informasi dalam bentuk buku dan artefak tentang kesehatan, kesejahteraan, dan umur panjang.

Pada artefak bertuliskan karakter China, ada berbagai obat tradisional China untuk mengobati sakit kepala, kelumpuhan, asma, masalah seksual dan masalah kesehatan lainnya.

Makam Lady Dai ditemukan pada tahun 1971 di sebuah situs arkeologi bernama Mawangdui dekat kota Changsha.

Baca Juga : Dituding Punya Rasa dengan Meldi hingga Membatasi Keuangan Dewi Perssik, Jawaban Tegas Angga Wijaya: Saya Diberikan Kuasa Penuh

Dia ditemukan terbungkus dalam dua puluh lapisan sutra dan dibaringkan dalam serangkaian empat peti mati berlapis-lapis dengan ukuran yang semakin kecil.

Untuk menahan udara dan air, makamnya penuh dengan arang dan bagian atasnya disegel dengan beberapa kaki tanah liat.

Ruang kedap udara ini secara efektif membunuh bakteri yang mungkin ada di dalam dan membantu melestarikan tubuhnya.

Para arkeolog juga menemukan jejak merkuri di dalam peti matinya, menunjukkan bahwa logam beracun itu mungkin telah digunakan sebagai agen antibakteri.

Baca Juga : Driver Ojek Online Dikerjai di Pompa Bensin, Yamaha Mio Miliknya Dapat Tagihan Ngawur

Tubuhnya juga ditemukan terendam dalam cairan tidak dikenal yang sedikit asam, yang juga mencegah bakteri tumbuh.

Beberapa percaya cairan tersebut sebenarnya adalah air dari tubuh dan bukan cairan pengawet yang dituangkan ke dalam peti matinya.

Baca Juga : Terungkap, Petugas Keamanan Akui Syahrini Sering Kunjungi Penthouse Reino Barack Sebelum Resmi Jadi Suami Istri

Bagaimana sebenarnya tubuh Lady Dai bertahan dari pembusukan adalah sebuah misteri, karena banyak mayat di ruang kedap udara dan kedap air yang sama, gagal dipertahankan.

Penggalian di Mawangdui dan jasad Lady Dai, serta suami dan putranya, dianggap sebagai salah satu penemuan arkeologi besar pada abad ke-20.

Baca Juga : Ungkap Kondisi Rumah Tangganya dengan Iyan Sambiran, Nunung Beberkan Kelakuan 2 Brondong Mantan Suaminya

Tubuh Lady Dai saat ini masih berada Museum Provinsi Hunan, di mana orang-orang dapat melihatnya. (*)