Find Us On Social Media :

Tiga Hari Ditahan Tanpa Makan dan Air, Budak Seks ISIS Akui Tak Sengaja Menyantap Balitanya yang Disajikan dengan Sepiring Nasi

By Veronica Sri Wahyu Wardiningsih, Senin, 22 Juli 2019 | 15:44 WIB

Tiga Hari Ditahan Tanpa Makan dan Air, Budak Seks ISIS Tak Sengaja Menyantap Balitanya yang Disajikan dengan Sepiring Nasi

GridPop.ID - Islam Irak dan Suriah (ISIS) membawa banyak penderitaan bagi warga etnis Yazidi.

Terlebih lagi, kekejaman dan kebrutalan ISIS dilampiaskan kepada kaum perempuan.

Bukan hanya jadi budak seks, para perempuan juga harus melihat anggota keluarga habis tak bersisa di tangan kekejaman ISIS.

Baca Juga: 3 Fakta Pelaku Bom Bunuh Diri di Pos Polisi Kartasura Sukoharjo, Diduga Terpengaruh Pengaruh ISIS dan Pernah Hilang Secara Misterius

Melansir dari Suar.ID, Senin (22/7/2019), seorang perempuan Yazidi dan pernah jadi budak seks ISIS mengaku tak sengaja telah memakan bayinya sendiri pada 2017 lalu.

Kepada Vian Dakhill, seorang anggota parlemen Irak, dia mengaku, bayinya itu dibunuh lalu dimasak sebelum dihidangkan kepadanya bersama sepiring nasi.'

Vian, dalam keterangannya, juga menyebut ada seorang gadis berusia 10 tahun dipaksa berhubungan seks hingga meninggal dunia di depan saudara perempuan dan ayahnya.

Baca Juga: Bikin Haru, Kasih Sayang Karenina Sunny kepada Steve Emmanuel yang Terancam Vonis Mati: Apa yang Saya Makan Disisakan untuk Kakak

"Salah satu perempuan yang berhasil kami bebaskan dari ISIS mengatakan bahwa dia ditahan di ruang bawah tanah selama tiga hari tanpa makan dan air," ujar Vian kepada media Mesir, Extra News.

Setelah itu, lanjut Vian, para komandan ISIS itu membawa sepiring nasi lengkap dengan lauknya. Dan, "Perempuan itu memakannya karena sangat kelaparan.

Setelah makan, para anggota ISIS bilang kepadanya, " Kami memasak anak laki-lakimu yang berumur satu tahun yang kami ambil darimu dan kamu baru saja memakannya."

Baca Juga: Tak Ada Sesal Jadi Pengantin ISIS Saat Masih Umur 15 Tahun, Remaja Ini Kini Merengek Minta Pulang Saat Tahu ISIS Mulai Kalah

Seperti disebut di awal, perempuan itu berasal dari Etnis Yazidi.

ISIS sendiri berada di balik kematian ribuan orang Yazidi sementara para perempuan dan anak-anak disekap untuk dijadikan budak seks.

"Salah seorang perempuan bilang, mereka membawa enam saudari perempuannya," kata Vian tentang gadis yang diperkosa hingga tewas.

Baca Juga: Jadi Target Operasi ISIS, Kate Middleton Tetap Tampil Percaya Diri Saat Kunjungi Komunitas Perkebunan di London Utara

"Saudara perempuan termudanya, masih 10 tahun, diperkosa hingga mati di depan ayah dan saudarinya.

"Dia berumur 10 tahun. Pertanyaannya—untuk diri kita sendiri: Mengapa? Mengapa orang-orang biadab ini melakukannya kepada kita?"

Pada awal 2017, seorang remaja diperkosa oleh sekelompok pria yang terdiri atas 40 orang.

Baca Juga: Bukan Fatmawati, Ini Dia Perempuan yang Setia Dampingi Bung Karno Hingga Ajal Menjemput

Dia mengaku dihajar menggunakan kabel setelah mencoba lari dari ISIS.

Lamiya Haji Bashar (18) meminta keadilan di depan pengadilan syariah yang memimpin pelarian bersama beberapa gadis lainnya.

"Ia bilang, mereka harus membunuhku atau memotong kakiku untuk menghentikanku melarikan diri," tambah Vian.

Baca Juga: Kisah Haru Driver Ojol yang Viral Usai Beri Jaketnya pada Tunawisma, Merasa Iba hingga Ingat Anak di Rumah

Meski demikian, dia tak akan pernah menyerah untuk mencari keadilan.

Meski banyak perempuan berakhir tragis di tangan ISIS, ada pula perempuan yang telah bebas.

Adalah Nadia Murad, seorang etnis Yazidi yang selamat dari kekejaman terburuk dan kebrutalan yang menimpa kaumnya.

Dikutip dari GridHot.ID, ia menjadi satu dari sekitar 6.500 perempuan Yazidi yang diperlakukan sebagai budak seks oleh ISIS.

Baca Juga: Dibuang Majikannya, Anjing Setia Ini Kembali ke Rumah Setelah Berjalan 200 Kilometer, Begini Kisahnya yang Menyayat Hati

Selain diperjual-belikan di pasar, perempuan Yazidi dilelang melalui layanan pesan WhatsApp dan Telegram.

Entah bagaimana, setelah tiga bulan menjadi budak seks, dipukuli dan disiksa, Nadia Murad dapat melarikan diri.

Ia kemudian bergabung dengan pengungsi etnis Yazidi yang ada di sana.

Baca Juga: Pengantin Laki-Laki ini Mendadak Lari Tunggang Langgang Usai Lihat Calon Istrinya, Ada Apa?

Setelah itu, Nadia Murad mendapat bantuan dari sebuah organisasi dan tinggal di Jerman, berkumpul dengan saudarinya yang sempat terpisah.

Sejak tinggal di Jerman, Nadia Murad mendedikasikan dirinya sebagai aktivis anti kekerasan terhadap perempuan bernama "Perjuangan Rakyat Kami".

Dikutip ari BBC Indonesia, Selasa (11/12/2018), Nadia Murad dipuji karena secara terbuka berani membeberkan dan membagikan pengalaman menjadi budak seks ISIS.

Baca Juga: Seorang Atlet Asing Keluhkan Minuman di Indonesia Rasanya Aneh, Ternyata yang Dikonsumsinya Santan!

Nadia Murad pun resmi menerima Penghargaan Nobel Perdamaian dalam satu upacara di Oslo, Norwegia, pada 10 Desember 2018. (*)