GridPop.id - Sekarang masyarakat sudah biasa memesan hotel secara online.
Pilih kamar yang disuka, pesan, dan lalu bayar.
Namun, pasangan ini justru alami kerugian yang luar biasa.
Hotel yang dipesan tidak sesuai ekspektasi.
Katrina dan suaminya tinggal di sebuah hotel yang berlokasi di Nashville, Amerika Serikat (AS).
Tempat ini awalnya dipilih karena ingin meluangkan waktu menyendiri.
Awalnya pengalaman ini akan menjadi menyenangkan.
Namun semuanya tiba-tiba berubah menjadi mimpi buruk.
Kamar yang dipesan sungguh luar biasa buruk.
AC tidak dapat dipakai, air di pancuran tidak mampu beroperasi dengan baik.
Yang lebih parah, mereka harus membersihkan kamar hotel itu sendiri.
Pegawai dan layanan hotel sungguh buruk.
"Kami tidak melihat siapa pun yang bisa diajak bicara."
"Jadi saya putuskan untuk menghubungi nomor yang terakhir masuk."
"Secara otomatis, telepon terhubung ke pengacara atau sesuatu yang aneh semacamnya."
"Jujur ya, sebenarnya saya harus bersih-bersih kamar sendiri."
"Ruangan itu tidak terawat dan sepertinya tidak dibersihkan sama sekali sejak orang terakhir datang."
"Kami memeriksa seprai lalu menemukan rambut dan kotoran."
Setelah keluar dari mimpi buruk itu, mereka menerima email dari hotel.
Sebagaimana hal pada umumnya, pihak hotel kemudian meminta ulasan.
Bak gayung bersambut, pasangan tersebut memuntahkan unek-uneknya.
Barang betul mereka tidak puas selama menginap di hotel.
"Tentu saja jujur. Saya ingin orang tahu agar tidak membuang-buang uang."
"Biasanya orang menabung dan memakai untuk acara-acara khusus."
Usai memberi ulasan, pasangan ini malah dapat nelangsa.
Mereka malah dipaksa harus membayar sekitar 5 juta rupiah.
Tidak hanya itu, mereka terpaksa harus menarik ulasan atau bersiap untuk menghadapi neraka bernama persidangan.
"Saya merasa mereka menghukum perbuatan jujur dan tentu ini tidak adil."
"Saya sangat marah karena mereka melakukan itu."
Tidak terima, mereka membawa persoalan ini ke kantor Kejaksaan Agung.
Saat ditelusuri, ternyata hotel ini punya kebijakan aneh.
Pihak hotel punya hak untuk menghukum konsumen yang memberi ulasan negatif.
Kurang lebih begini bunyi peraturannya.
"Para tamu setuju jika menemukan masalah dengan akomodasi dan gagal memberi kesempatan untuk mengatasi persoalan tersebut sementara mereka bersama kami,"
"Dan atau menolak upaya eksklusif dari kami, namun malah meremehkan dengan cara apa pun,"
"Maka kami berhak untuk memberi tarif tambahan sebesar 5 juta."
Sebagai tambahan, hotel juga punya hak untuk membawa persoalan ke meja hijau.
Meski begitu, baru-baru ini kantor Kejaksaan Agung melempar dakwaan kepada manajemen hotel.
Tindakan yang dilakukan sudah melanggar Undang-Undang Penipuan Konsumen.
Tuntutan menyatakan bahwa pihak hotel tidak berhak untuk menyerang sebuah ulasan yang diberikan oleh konsumen.
Sebab, para konsumen punya hak atas kebebasan berbicara.
Model kebijakan bejat ini dijuluki 'tidak adil, kasar, dan menipu'.
(*)
Komentar