Find Us On Social Media :

1000 Lebih Nyawa Melayang Karena Terinfeksi Virus Corona, Begini Kebijakan Pemerintah China untuk Prosesi Pemakamannya!

By Luvy Yulia Octaviani, Kamis, 13 Februari 2020 | 19:15 WIB

Jenazah korban virus corona

GridPop.ID - Virus Corona menjadi ancaman bagi masyarakat, karena virus ini dikenal sebagai virus yang mematikan.

Bahkan, status darurat kesehatan terakit virus ini sudah di keluarkan oleh (World Health Organization)

Beberapa tahun lalu publik sempat dihebohkan dengan SARS dan MERS, kedua virus ini memiliki kemiripan dengan virus corona.

Baca Juga: 2 Bulan Kenal Hanya Lewat DM Instagram, Pasangan Muda Ini Tak Perlu Waktu Lama hingga Putuskan untuk Menikah, Kisahnya Langsung Viral!

Penyebaran virus ini pun disebut sangat cepat, hingga membuat sejumlah negara mengambil langkah pembatasan turis China lantaran mengkhawatirkan terkena infeksi virus tersebut.

Wabah penyakit pandemik dari virus corona di China telah merenggut lebih dari 1000 jiwa.

Dilansir dari South China Morning Post pada Rabu (11/2/2020), total ada 1.018 orang meninggal dunia akibat virus corona.

Lalu, bagaimana cara China mengatur proses pemakaman dan penanganan jenazah korban virus corona ini?

Baca Juga: Lucinta Luna Kini Meringkuk di Balik Jeruji Besi, Paranormal Kondang Ini Pernah Beri Peringatan Bakal Ada Bahaya Dialami sang Artis yang Sekarang Jadi Kenyataan: Jangan Mengarang Cerita!

Selain itu, untuk pertama kalinya sejak merebak pada Desember 2019, ada lebih dari 100 orang meninggal dalam sehari karena virus corona.

Melihat banyaknya jumlah korban meninggal, bagaimana jenazah korban virus corona dimakamkan?

Komisi Kesehatan Nasional China (NHC), seperti dikutip dari webnya, menerbitkan aturan terkait pemakaman korban virus corona.

Baca Juga: Tak Lagi Tampil Seksi, Aurel Hermansyah Pamer Penampilan Baru dengan Hijab hingga Buat Netizen Pangling: Masya Allah

Aturan yang diterbitkan 1 Februari 2020 menyebutkan, setelah dipastikan kematian pasien dengan pneumonia karena virus corona langsung diterbitkan laporan kematian.

Dikremasi

Lembaga medis yang menangani pasien memberikan sertifikat kematian kepada kerabat korban untuk pemberitahuan kremasi.

Jika perintah segera melakukan kremasi ditolak oleh keluarga korban, sedangkan lembaga medis dan rumah duka gagal meyakinkan maka wewenang menjadi otoritas keamanan publik.

"Setelah pemberitahuan kematian pasien dengan pneumonia karena virus corona, tidak ada upacara perpisahan jenazah dan kegiatan pemakaman lainnya," tulis aturan tersebut.

Baca Juga: Bukan Kaleng-kaleng, 4 Koleksi Kacamata Kesayangan Milik Syahrini Ini Harganya Selangit, Paling Murah Senilai Rp 21 Juta!

Pemindahan jenazah hanya dilakukan oleh rumah duka dan ada rute khusus dari rumah sakit ke rumah duka.

Setelah jenazah sampai di rumah duka, akan langsung dilakukan kremasi.

"Petugas dan kerabat korban dilarang membuka kantong jenazah selama seluruh proses kremasi," bunyi aturan itu.

Baca Juga: Wanita Ini Meninggal Saat Hamil, 10 Hari Tak Segera Dikuburkan Tiba-tiba Jasadnya Melahirkan Bayi di Dalam Peti Mati, Ternyata Ini yang Sebenarnya Terjadi

Kemudian, setelah kremasi selesai, abu rumah duka diambil oleh staf layanan rumah duka dan sertifikat kremasi dikeluarkan, yang diserahkan kepada kerabat untuk dibawa pergi.

Apabila keluarga menolak untuk mengambilnya, itu akan diperlakukan sebagai abu dari tubuh yang tidak diklaim.

Prosedur tersebut juga diberlakukan untuk orang asing di China, Hong Kong, Makau, atau Taiwan yang meninggal di China karena virus corona.

Baca Juga: Keji, Tak Hanya Bakar Hidup-hidup Suaminya, Wanita Ini Mengaku Sempat Cari Dukun Sakti di Pantai Selatan untuk Santet Sang Suami, Kisahnya Bikin Shock!

Kata peneliti

Mengenai kebijakan China yang langsung mengkremasi jenazah korban virus corona ditanggapi Ronald St John, mantan Direktur Jenderal Pusat Kesiapan dan Tanggap Darurat di Badan Kesehatan Masyarakat Kanada, yang pernah menangani wabah SARS 2003.

Menurut Ronald, virus corona berbeda dengan Ebola yang memang harus ada protokol saat pemakaman jenazah.

"Mungkin ada elemen praktis untuk keputusan ini, kremasi cepat dan memakan ruang lebih sedikit dari penguburan standar jika sejumlah kematian terjadi," kata Ronald, dikutip dari Aljazeera.

Baca Juga: Prediksi Prahara yang Akan Terjadi dalam Pernikahan Jessica Iskandar dna Richard Kyle, Ahli Tarot Ini Ungkap Hanya Sosok Ini yang Bisa Satukan Keduanya!

Sementara Dr Hagai Levine, profesor epidemologi dengan keahlian penyelidikan wabah di Universitas Ibrani-Hadassah Yerusalem, mengatakan bahwa risiko penularan tetesan dari mayat sangat rendah.

"Ada sejarah panjang ketakutan dari mayat selama epidemi," tuturnya. (*)

Baca Juga: Tak Mau Jatuh ke Lubang yang Sama, Lucinta Luna Beri Pesan Menyentuh Ini hingga Sampaikan Ucapan Terima Kasih: Semoga Saya Bisa Menebus Dosa

Artikel ini telah tayang di gridhype dengan judul Terdengar Sadis, Begini Cara Pemerintah China Perlakukan Ribuan Korban Jiwa Akibat Virus Corona.