Find Us On Social Media :

3 Tahun Kerja dari Gubuk, 10 Orang Pembobol Rekening Bank Sukses Gondol Uang Nasabah Senilai Rp 21 Miliar Hingga Sanggup Bangun Rumah dengan Kolam Renang!

By Arif B,None, Selasa, 6 Oktober 2020 | 14:20 WIB

Gambar ilustrasi. Mesin ATM

 

GridPop.ID - Sebanyak 10 orang yang tergabung dalam sindikat pembobol rekening bank telah berhasil diamankan.

Mereka adalah AY, YL, GS, K, J, RP, KS, CP, PA, dan A.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono memang tidak merinci kapan mereka ditangkap, namun yang jelas 10 orang tersangka diringkus di Tulung Selapan, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Baca Juga: Kisah Cintanya dengan Ariel NOAH Begitu Melegenda dan Penuh Kontroversi, Luna Maya Akui Pasrah Selalu Dikait-kaitkan dengan Sang Mantan hingga Berikan Pesan Ini: Take Care of Yourself!

Diketahui, 10 pembobol rekening bank ini telah beroperasi selama 3 tahun mulai dari 2017 hingga 2020.

Tak tanggung-tanggung, selama beroperasi mereka telah berhasil membobok 3.070 rekening dengan modus menipu korban demi mendapatkan kode one time password (OTP).

Total kerugian yang diderita nasabah bahkan mencapai Rp 21 miliar.

Baca Juga: Bucin Setengah Mati, Usai Hapus Tato di Seluruh Tubuhnya, Kini Nathalie Holscher Sampai Rela Ganti Nomor Demi Sule dengan Alasan Masih Dihubungi Mantan: Aku Udah Serius!

Kronologi kasus

Argo membeberkan, kasus tersebut bermula dari laporan para korban ke Bareskrim pada Juni 2020.

"Dari masyarakat maupun perbankan dan transportasi online mengalami kerugian yang dilaporkan sekitar Rp 21 miliar," kata Argo di Gedung Bareskrim, Jakarta Selatan, Senin (5/10/2020).

Setelah menerima laporan, Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri membentuk tim untuk melakukan penyelidikan.

Baca Juga: Bak Jatuh Tertimpa Tangga, Begini Jeritan Hati Bibi Ardiansyah di Tengah Peliknya Kasus Vanessa Angel yang Tak Kunjung Usai, Bisnis Hancur dan Sang Ayah Terjangkit Covid-19

"Pelaku berjumlah 10 orang. Subuh-subuh sekitar jam 04.00 WIB, para pelaku ini diambil dan tidak melakukan perlawanan," tutur Argo.

Modus operandi

Menurut keterangan polisi, para pelaku membobol atau mengambil alih rekening korban menggunakan kode OTP.

Para tersangka menipu korban untuk mendapatkan kode rahasia tersebut.

Baca Juga: Dituding Ekploitasi Anak Sendiri Demi Konten dan Iklan, Nagita Slavina Menangis Sesenggukan Jawab Omongan Miring Netizen Tentang Perlakuannya sebagai Orang Tua: Kita Nggak Akan Pernah Mau Dia Susah

"Dia (para tersangka) menelepon ke nasabah bank, minta password-nya dengan alasan sedang perbaikan data identitas, perbaikan sistem, dan sebagainya," ucap Argo.

Menurut dia, seseorang dapat tidak menyadari dirinya sedang ditipu sehingga memberikan kode OTP kepada pelaku.

Padahal, setelah menguasai akun korban, para tersangka mentransfer uang korban ke rekening penampungan.

Argo mengatakan, para tersangka memiliki banyak rekening penampungan.

Rekening penampungan berasal dari warga di sekitar domisili pelaku.

"Hampir satu kampung diminta membuka rekening. Ada timnya yang jadi penunjuk, dia yang jalan, memberikan iming-iming agar masyarakat di sekitarnya membuka rekening, itu yang digunakan rekening penampungan," ujar dia.

Baca Juga: Dituding Ekploitasi Anak Sendiri Demi Konten dan Iklan, Nagita Slavina Menangis Sesenggukan Jawab Omongan Miring Netizen Tentang Perlakuannya sebagai Orang Tua: Kita Nggak Akan Pernah Mau Dia Susah

Setelah terkumpul, ada tersangka yang berperan mengambil uang dari rekening penampungan.

Ada pula tersangka yang bertugas menyiapkan peralatan teknologi. Adapun pengendali operasi ini adalah tersangka AY.

Uang yang telah ditarik kemudian dibagikan kepada para tersangka. Kapten atau pengendali operasi mendapatkan 40 persen dan sisanya merupakan jatah pelaku lain.

Baca Juga: Pergi Pagi Pulang Malam untuk Belajar, Begini Kisah WNI yang Mengenyam Pendidikan di Taiwan, Makin Tinggi Jenjangnya Makin Berat dan Bertambah Jam Porsi Belajar

Menurut keterangan polisi, sindikat ini bekerja secara terstruktur. Mereka beroperasi dari gubuk-gubuk yang berada di hutan di samping kampung mereka.

Hasil kejahatan

Dari informasi yang diperoleh penyidik, para tersangka melakukan aksinya karena motif ekonomi.

Argo menuturkan, pembobolan yang diduga dilakukan para tersangka menjadi pekerjaan sehari-hari yang dilakukan.

"Motifnya untuk ekonomi, tapi setelah dicek, memang benar dia bisa memperbaiki hidupnya, ada rumah yang bagus, punya mobil," ungkap Argo.

Total, menurut polisi, para tersangka telah menggunakan uang dari aksinya tersebut sebesar Rp 8 miliar.

Argo mengatakan, uang itu digunakan pelaku untuk kepentingan pribadi, misalnya membeli mobil atau membangun rumah.

Bahkan, polisi menemukan rumah pelaku yang memiliki kolam renang.

Baca Juga: DKI Jakarta Darurat Kasus Covid-19, Anies Baswedan Justru Ramai Dikabarkan Dirawat di Rumah Sakit Royal Sunter, Ada Apa?

Ancaman hukuman

Dalam kasus ini, polisi pun menyita barang bukti berupa laptop, telepon seluler, kartu ATM, buku tabungan, dan uang.

Para pelaku dijerat dengan Pasal 30 ayat 1 UU ITE jo Pasal 46 ayat 1 UU ITE dan Pasal 32 jo Pasal 48 UU ITE dan Pasal 363 KUHP.

"Ini ancamannya 6 sampai 10 tahun penjara," kata Argo.

Hingga saat ini, polisi mengaku masih menginvestigasi apakah ada tersangka lain dalam kasus ini.

Baca Juga: Seorang Pria Ngaku Jadi Korban Penipuan Giveaway sampai Nunggu 2 Hari di Depan Rumah Baim Wong, Suami Paula Verhoeven Justru Curiga hingga Lakukan Hal Tak Terduga Ini

GridPop.ID (*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul, Cerita Pembobol Rekening: Bekerja dari Gubuk, tetapi Punya Rumah dengan Kolam Renang